Langsung ke konten utama

Pekerjaan Hati



 Durasi : 1 menit



Sumber : drjuanda.com

Cukuplah semua itu bermuara di hati yang terdalam
Tak perlu kau umbar seperti halnya hitam yang kelam
Kau menginginkan siang, tapi kau dapati malam
Begitulah dunia yang dipenuhi hukum alam

Jika memang kau sanggup mewujudkan
Kejarlah ia dalam setiap sujud penghambaan
Mengadu pada Allah tanpa keraguan
Hingga hatimu diliputi ketentraman

Betapa berat amanah pekerjaan ini
Yang membuatku tak berdaya dalam menjalani
Dengan banyaknya rintangan yang menghalangi
Tapi tak membuatku pantang untuk terus pergi

Karena itulah alasan Allah yang ada
Menjadikan diri ini sebagai sebuah tanda
Atas keagungan dan kemuliaan-Nya
Menjadikan hati ini tuk terus memuja-Nya

Indah rasanya jika rasa ini bisa dirasakan olehmu
Karena bayangan itu kan menjadi nyata bukan lagi semu
Hati ini akan terus bersemangat dalam ketaatan
Sampai batas akhir dari masa penghambaan

2 Februari 2015
Menanti dalam rindu atas janji-Mu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Lidah dan Otak

Suatu hari di tengah merah meronanya langit, terngiang hembusan angin berbisik lembut. Bercampur dengan derasnya gelombang suara riuh dan membisingkan. Tiba-tiba terdengar gemuruh rasa syukur dan pujian. '' Alhamdulillah ...'' dengan lantang anak paruh baya itu berucap. Semua riuh hilang terbenam seiring transformasi warna dunia. Seruan itu pun akhirnya memaksa kami untuk sadar bergerak menyucikan diri. Selesai waktuku dedikasikan untuk Dia Yang Satu, menandakan penapakan langkah akan turut berlanjut. Sulit memang untuk berdiam di tempat yang sangat menentramkan itu. Walau hanya beberapa menit, terasa kurang bahkan tak terasa. Tapi, hari itu membuatku tafakur sejenak ketika mendengarkan seseorang berkata, '' Lidah yang gemar bertanya otak yang gemar berpikir ''. Sulit mencari kesalahan dari kalimat itu. Setidaknya kalimat itu sudah membuatku hilang kesadaran.  Lidah memang sering membuat pemiliknya terjatuh dalam jurang dosa. Tak bertulang tap...

Andai Engineer menjadi Ketua KPK

kezaliman pun seiring bertambahnya waktu semakin memuncak. Itulah korupsi yang sudah meradang akut di Negeri ini. Akan tetapi, saya memiliki kepercayaan bahwa selagi dunia masih berputar, masih ada peluang saya untuk merubahnya. Bukan pengharapan dari manusia berupa materiil dan ucapan terima kasih, tapi hanya ridho Allah saja yang menjadi tujuan perjalanan akhir.  Seperti pantulan bola tenis, adakalanya ia memuncak dan menurun. Begitu pula dengan korupsi yang   akan mengalami pasang surut dari masa ke masa. Korupsi akan merosot menurun hingga titik nolnya. Indonesia yang bersih dari korupsi itu akan terwujud ketika saya menjadi   Ketua KPK, seorang calon sarjana Teknik yang cerdas, amanah, dan kreatif. Memberikan pencerdasan kepada seluruh elemen masyarakat, menjadi salah satu upaya untuk menghalau korupsi. Dari sana, peran dari KPK untuk memonitor penyelenggaraan pemerintah negara bisa lebih kuat. Karena kepedulian akan korupsi bisa   meningkat. Semu...