Langsung ke konten utama

Save Bonus Demografi!

Sedikit keluar dari keseharian seorang mahasiswa teknik, perlu adanya perenungan terhadap fenomena hangat zaman ini. Sebuah anugerah atau mungkin musibah yang akan diterima bangsa ini. Sebuah kado dari Tuhan yang entah siapa yang memintanya. Bahkan, tidak ada yang pernah menyadari akan kemurahan yang diberikan-Nya itu kepada Bangsa Indonesia.

Setiap masalah yang melanda negeri ini, membuat banyak pikiran terdistribusi untuk ikut menyelesaikan. Baik masalah yang bersifat klasik, hingga permasalahan yang 'dibuat-buat' manusia. Seperti halnya bencana alam yang memporak-porandakan tanah air, bentrok yang memecah belah persatuan bangsa, dan korupsi yang menjamur di mana-mana.

Akan tetapi, hal seperti itu perlu disikapi dari sudut pandang yang berbeda. Menyelesaikan masalah dengan melakukan berbagai cara yang bersifat preventif. Dalam hal ini selalu berpikir visioner dalam bertindak.

Bonus demografi adalah adalah istilah kependudukan untuk menggambarkan tersedianya juml`h angkatan kerja atau penduduk produktif sangat tinggi di satu negara. Hal itu senada dengan pernyataan Dr Sugiri Syarief MPA, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). ''Populasi usia produktif Indonesia saat ini terbesar sepanjang sejarah kemerdekaan Indonesia,'' tegasnya.

Berdasarkan data statistik kependudukan Indonesia saat ini, dari 240 juta penduduk Indonesia, 50 persen berusia di bawah 29 tahun dan 60 persen berusia di bawah 39 tahun. Data itulah yang memperkuat bahwa Indonesia saat ini sedang dihadapi peluang yang sangat berpengaruh untuk masa yang akan datang.

Akan tetapi, hal itu akan menjadi seperti dua belah mata pisau. Yang satu akan menguntungkan dan di sisi lain akan membahayakan. Syarat mutlaknya adalah pengelolaan yang baik untuk hasil kebermanfaatan optimal.

Faktanya, beberapa orang yang sempat saya jumpai bahkan dalam suatu forum yang berskala nasional pun mereka tidak banyak yang faham akan hal ini. Ini merupakan sebuah indikator, kepedulian terhadap bangsa ini kian hari kian luntur. Hal itu disebabkan karena persoalan bangsa ini lebih banyak dititikberatkan kepada suatu kelompok.

Dilansir dari situs resmi Direktorat Jendral Perguruan Tinggi (Dirjen Dkti), pihak pemerintah dalam hal ini Kementrian Pendidikan sudah mulai mengelola peluang ini. Mulai dari pengadaan bantuan operasional sekolah untuk semua jenjang hingga beasiswa berprestasi untuk siswa, mahasiswa, dan guru. Yang terbaru adalah akan diluncurkannya program Pendidikan Menengah Universal (PMU) mulai tahun 2013 yang juga diklaim sebagai rintisan program wajib belajar 12 tahun.

Mahasiswa Perlu Sadar
Kesadaran yang harus selalu dipupuk adalah keinginan untuk berperan aktif dalam menangani peluang ini. Bahwa kebersamaan lebih dituntut demi terwujudnya pencapaian yang maksimal.

Menurut hasil diskusi dengan para pemuda se-Indonesia dalam sebuah forum yang dinamakan Forum Indonesia Muda, banyak aspek yang harus dikelola. Seperti halnya aspek pendidikan, kesehatan, ekonomi, hukum dan tata kelola negara, serta kewirausahaan.

Oleh karenanya, mahasiswa pun turut menjadi pemeran utama dalam peluang ini. Secara garis besar bahwa mahasiswa masih mampu untuk masuk ke dalam aspek-aspek tersebut. Harapannya akan mampu mengintegralistikan itu semua.

Akan tetapi, hal itu cukup sulit apabila tidak dilakukan dari hal terkecil. Yaitu bahwa setiap mahasiswa tersebut harus sadar dan faham akan peluang yang terjadi ini. Bagaimana bisa mereka berperan untuk mengelola peluang ini dengan baik apabila dari diri mereka pun masih banyak ketidaktahuan.

Bukan lagi saatnya untuk menutup mata dari realitas kehidupan bangsa, menutup telinga dari jerit harapan bangsa, dan menutup hati untuk senantiasa berbagi menjadi insan yang terbaik. Ketidaktahuan hanya menjadi lagu lama di tengah gemuruh perang terhadap pemikiran kritis sudah dimulai.

Hasil yang optimal, tidak didapatkan dari usaha yang instan. Perlu adanya kesabaran dan ketekunan dalam menjalani. Semua demi terwujudnya Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.


Fiqly Firnandi Ramadhan
Mahasiswa Jurusan Teknik Material dan Metalurgi
Angkatan 2011
Pembina Hugo Hatta Youth Club 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Go Fighting !!!

Saatnya berjuang kembali meniti perubahan berlari sampai ujung dunia aku akan menuju tempat dimana aku menuntut ilmu mencari kebesaran Allah yang Maha Besar Menemukan Keagungan-Nya Dalam setiap denyut nadi dan hembusan nafas That's All will be Impossible If I'm still here Just look and sit Memang bahagia akan tercapai tergantung pemikiran kita Banyak yang menginginkannya tak jarang juga orang yang terjatuh olehnya hingga ia frustasi Apakah aku akan seperti itu? Sesungguhnya ketenangan itu datang Saat kita mengingat Zat Yang Menciptakan Langit dan Bumi Kawan, hari ini merupakan dimana aku menemukan kembali sebuah kebahagiaan. Menemukan caraku untuk menjalani hidup. Bukan seperti hidupnya ayam, mencari makan dan dimakan. Tapi, hidup ini tak lain akan menjadi sebuah torehan tinta emas dalam peradabannya. Aku sudah terlena akan melihat masa depan. Sehingga, hari ini pun hampir aku tinggalkan. seperti layaknya orang yang melamun seharian saja. Disaat Shalatku akhi...

Islam and Economic development

Durasi : 3 Menit   Keberhasilan Negara Malaysia dalam menangani Islam dan pembangunan Ekonomi, perlu dijadikan pembelajaran. Bukan untuk mengklaim apa yang dimiliki mereka, akan tetapi menerapkan kebenaran dan kesuksesan yang sesuai dengan norma Islam. S emula memang kondisi Negara itu “pas-pasan” . Tapi, kini melejit sehingga menjadi salah satu negara yang menatap kemajuan yang berada tak jauh de depannya, baik dalam bidang pemerintahan, politik, ekonomi, dan berbagai bidang lainnya. Jika kita melihat Malaysia yang seperti sekarang tidak bisa dilepaskan dari proses islamisasi Malaysia sendiri yang digagas oleh Perdana Menteri Mahathir Muhammad Mohammad, seorang perdana menteri malaysia yang berkuasa kira-kira 2 dekade di Malaysia, sejak tahun 1980-an. 

Biodiversity, Tak Pandang bulu

Menjadi kampus teknik tidak terlepas dari pembaharuan-pembaharuan teknologi yang dihasilkan. Orientasi untuk terciptanya teknologi ramah lingkungan pun sudah digagas ITS. Seperti halnya Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang beberapa hari lalu diresmikan. Hal itu membuat kesan keteknikannya bernilai positif bagi lingkungan dan biodiversitasnya.